Menyambut Musim Panen, Masyarakat Adat Bugi Menggelar Pesta Adat.

Baubau / Sultra1News – Masyarakat adat Bugi Kecamatan Sorawolio Kota Baubau memiliki cara tersendiri menyambut musim panen jagung dan padi. Salah satunya menggelar pesta adat Galampa seperti yang digelar pada Selasa 13 Februari 2018.

Galampa dalam bahas Ciacia berarti Baruga (atau tempat pertemuan). Pesta adat ini hanya dilaksanakan di Baruga, tidak bisa ditempat lain.

Salah satu tokoh adat Bugi, Hamid menjelaskan, Pesta Adat Galampa dilaksanakan setiap tahun setiap memasuki musim panen. Menariknya, sebelum pesta adat ini, dilaksanakan hiburan rakyat selama 5 hari berturut-turut.

“Ditutup dengan pesta adat. Hiburan rakyat itu hanya menggunakan satu gong dan satu gendang,” ungkap Hamid di sela-sela penyelenggaraan pesta adat, Selasa 13 Februari 2018.

Menurut Hamid, dalam Pesta Adat Galampa, Moji (imam kampung) duduk berhadapan. Maknanya, agar terjadi proses tanya jawab antara Moji dan Parabela (Kepala Adat) tentang proses tanam yang dilaksanakan selama berbulan-bulan.

Jika panen mengalami kegagalan, maka terjadi komunikasi tanya jawab antara Moji dan Parabela. Sehingga bisa melahirkan solusi agat gagal panen tidak terjadi lagi.

“Kalau panen melimpah, juga harus dilakukan tanya jawab agar bisa dipertahankan. Utamanya menyangkut cara menanam,” imbuh Hamid.

Dalam pesta adat ini, diakhiri dengan ritual Pasambua atau berbagi rejeki sesama masyarakat. Parabela akan melempar beberapa hasil panen dari empat penjuru mata angin. Ritual ini dimaknai agar seluruh masyarakat yang ada dalam satu rumpun bisa merasakan panen melimpah.

“Kalau pesta adat Galampa agak murah biayanya paling sekitar Rp 6 juta karena diselenggarakan hanya dalam Baruga,” ujarnya.

Selain Pesta Adat Galampa, masyarakat adat Bugi juga mengenal Pesta Adat Maata. Acara ini digelar setiap memasuki musim tanam yang diawali dengan pembersihan lahan.

Pesta adat ini selalu meriah karena dilaksanakan di lapangan luas. Makanya, biaya dalam penyelenggaraan kegiatan ini lebih besar. Bisa mencapai Rp 40 jutaan. Apalagi dalam prosesi ini, masyarakat menyembelih hewan ternak seperti sapi atau kambing.

Tak jarang, masyarakat Bugi yang ada diperantauan pulang kampung. Tujuannya hanya ingin mengikuti prosesi pesta adat.

Sebelum acara puncak pesta adat, dilaksanakan hiburan rakyat Batandaa. Beberapa alat musik tradisional seperti gendang, gong dan alat musik tradisional lainnya ikut digunakan.

“Termasuk punya lagu tersendiri,” tutur Hamid.

Acara ini dilaksanakan sebanyak 4 kali malam minggu. Perangkat adat sengaja memilih malam minggu agar tidak mengganggu waktu belajar siswa sekolah.

Menurut Hamid, acara puncak kegiatan itu akan ditutup dengan Pesta Adat Maata. Penyelenggaraan kegiatan dilaksanakan di lapangan. Namun, posisi duduk antara Parabela dan Moji berdampingan.

Dalam acara ini, akan dilakukan musyawarah untuk melakukan pembersihan lahan sebelum dilakukan penanaman.

(AG/SSN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *