Mengintip, Perayaan Pesta Adat Hendea dan Keragaman Budayanya

Busel / Sultra1News – PESTA Adat atau yang sebelumnya lebih identik dengan pesta panen warga Desa Hendea, Kecamatan Sampolawa, Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Merupakan pesta perayaan atau bentuk kegembiraan warga setempat usai panen tahunan.

LAPORAN/ AMIR SULTRA1NEWS.COM

Nama Desa Hendea yang sebelumnya bernama Desa Sadang Pangan yang digagas oleh Camat Sampolawa, Jufri pada tahun 1976. Bukan tanpan alasan, sebab Desa dengan mayoritas penduduknya berbahasa Cia-cia ini, sempat menjadi desa dengan hasil kebun terbanyak di jazira Kepulauan Buton.

Adapun perayaan Pesta Adat, yang sudah digelar turun-temurun sejak Sagia (Kesultanan Buton,red) sampai saat ini. Diawain dengan Ziara kubur yang mana meminta restu kepada leluhur demi kelancaran perayaan pesta adat tersebut.

Setelah itu, dilanjutkan dengan kegiatan “Posambua” yang mana ditiap-tiap keluarga mempersembahkan hasil panennya. Disusul kegiatan “Bongkabarata” yang merupakan rapat antara empat tokoh adat yang dimana dipercayai untuk menjaga empat unsur kehidupan yaitu Api, Anging, Air dan tanah.

Empat tokoh adat merupakan keturunan dari kesultanan Buton tempo dulu. Yaitu, Moji dan Parabela yang bertugas menjaga hidup dan mati Manusia. Hidup dan mati manusia bermaksut memdoakan bayi yang baru dilahirkan ke dunia agar kehidupan nya diberikan keberkahan, dan Mati Manusia berarti mendampigi dan mendoakan hingga Jasad Manusia dikuburkan.

Sementara dua Tokoh Adat lainya, yaitu Padesuka dan Waci bertugas mengamankan alam atau hasil panen masyarakat dari serangan hama dan menjaga perubahan Klusif musim timur dan barat.

Pembukaan kegiatan Pesta Adat yang dilaksanakan di Baruga atau Sakral menurut kepercaan warga setempat. Pria diwajibkan harus mengunakan Songko/Peci dengan mengunakan “Leja” sarung buton, yang dimana pria lebih identiknya mengunakan Sarung Leja bermotif Kotak-kotak sedangkan wanita Garis panjang dengan ditambahkan selendang yang digantungkan dilehernya.

Kegiatan itu sendiri diramaikan oleh tari “Pengaro” yaitu menceritakan silat adat setempat dan tari Lindan yang mengambarkan kegembiraan masyarakat.

Kemudian, Kegiatan berlanjut dengan makan bersama, menyiapkan talang yang dimana tiap talang itu di wakili satu orang.

Terakhir “Diera” atau kegiatan penutupan. Namun pada saat ini dimalam penutupan biasa diramaikan dengan pesta anak muda atau acara joget.

Untuk diketaui kegiatan ini berlangsung selama empat hari di setahun sekali. Adapun pesta adat ini digelar pada bulan Oktober dan November diakhir musim panen.

Nama Desa Hendea sendiri sempat berganti nama pada tahun 1976 sebagai desa Sandang Pangan. Dan pada tahun 1996 nama Desa tersebut, kembali berganti menjadi desa Hendea.

Adapun hasil panen terbesar desa dahulunya adalah Jagung dan Kacang. Namun, saat ini hasil panen warga mayoritasnya adalah sayur-sayuran.

Sumber : La Moko (Masyarakat Adat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *