Kepala Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengunjungi Pelabuhan Tanjung Priok International Container Terminal (JICT) Jakarta pada hari Sabtu untuk membahas peraturan kontroversial yang telah menyebabkan ribuan peti kemas terdampar di pelabuhan tersibuk di Indonesia.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk mengevaluasi dan mengedukasi para pemangku kepentingan tentang penerapan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 8 Tahun 2024 yang diperkenalkan untuk merampingkan proses pelepasan peti kemas yang membawa barang impor.

Peraturan sebelumnya, Nomor 7 tahun 2024, telah menyebabkan penahanan 17.304 peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta dan 9.111 peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah turun tangan secara langsung untuk mengubah peraturan perdagangan yang kontroversial tersebut menyusul laporan bahwa individu dikenakan bea yang lebih tinggi dari harga sebenarnya dari barang yang dibeli untuk penggunaan pribadi.

“Kami berharap sebagai hasil dari peraturan baru tersebut, backlog 17.000 peti kemas dapat segera diselesaikan, dan barang dapat dilepas hari ini. Kami berharap Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok segera melepas komoditas yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan nomor 8 tahun 2024,” kata Airlangga Hartarto saat jumpa pers di JICT Tanjung Priok.

Melalui Peraturan Menteri Perdagangan nomor 8 Tahun 2024, pemerintah telah sepakat untuk melonggarkan perizinan impor untuk sekelompok barang, antara lain elektronik, alas kaki, apparel, aksesoris fesyen, tas, dan katup. Selain itu, impor obat-obatan herbal, suplemen kesehatan, peralatan rumah tangga, dan kosmetik hanya memerlukan persetujuan surveyor untuk mendapatkan izin.

Barang yang diimpor sejak 10 Maret 2024, akan diproses sesuai dengan aturan yang digariskan dalam peraturan terbaru. Airlangga menghimbau kepada seluruh pihak terkait, termasuk otoritas pelabuhan, petugas Bea Cukai, dan kantor pelayanan, untuk bekerja tanpa lelah, termasuk akhir pekan dan hari libur, untuk mempercepat pembebasan peti kemas yang ditahan.

Keputusan tersebut menyusul laporan individu yang menghadapi bea selangit dibandingkan dengan nilai barang yang dibeli, mendorong tindakan cepat pemerintah untuk memperbaiki situasi tersebut. Aktris dan presenter Enzy Storia berbagi pengalamannya yang tidak menyenangkan karena tas yang dibeli ditahan oleh Bea Cukai karena pajak yang tinggi, menghalanginya untuk mengklaim kembali barang tersebut.

Seorang pengguna internet juga melaporkan bahwa seorang pria di Sumatera dikenakan bea tinggi atas peti mati yang dia gunakan untuk membawa almarhum ayahnya dari rumah sakit Malaysia.