Cinta seseorang kepada sesuatu seringkali bisa membutakannya. Dalam hal cinta duni misalnya, ada banyak efek negatif yang akan mendera para pecinta duni sebagaimana yang akan dikemukakan dalam tulisan ini.

Sultra1news – Dunia dengan segala gemerlap dan godaannya seringkali menjadi jebakan bagi banyak orang. Kecintaan pada dunia bisa membawa seseorang pada tiga hal yang tidak menyenangkan. Simak penjelasan Al-Hafizh Ibnu Qayyim dalam kitab “Ighaatsah al-Lahfaan” berikut ini:

مُحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ: هَمٍّ لَازِمٍ، وَتَعَبٍ دَائِمٍ، وَحَسْرَةٍ لَا تَنْقَضِي، وَذَلِكَ أَنَّ مُحِبَّهَا لَا يَنَالُ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا طَمَحَتْ نَفْسُهُ إِلَى مَا فَوْقَهُ

Orang yang mencintai dunia tidak lepas dari tiga hal: kekhawatiran yang selalu ada, kelelahan yang terus-menerus, dan penyesalan yang tak berkesudahan. Ini karena orang yang mencintai dunia tidak memperoleh sesuatu darinya kecuali nafsunya akan selalu menginginkan yang lebih tinggi.” Ini bukan sekadar ungkapan, tetapi sebuah kenyataan yang banyak diungkap dalam berbagai nasihat bijak, termasuk dalam kitab “Ighaatsah al-Lahfaan”.

Kekhawatiran yang Terus-Menerus

Orang yang terlalu mencintai dunia tidak akan pernah lepas dari kekhawatiran. Mereka selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki dan terus-menerus cemas memikirkan bagaimana cara mendapatkan lebih banyak lagi. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى لَهُمَا ثَالِثًا

Jika anak Adam memiliki dua lembah penuh dengan harta, ia pasti akan mencari lembah ketiga.” Ini menggambarkan sifat dasar manusia yang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

Kelelahan yang Tiada Henti

Selain kekhawatiran, kelelahan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan para pecinta dunia. Mereka terus bekerja keras, seringkali melebihi batas kemampuan fisik dan mental mereka, demi mengejar harta dan kedudukan.

Dalam pengejaran tanpa henti ini, mereka kehilangan waktu berharga dengan keluarga, teman, dan bahkan diri mereka sendiri. Kehidupan mereka dipenuhi oleh rutinitas yang melelahkan, tanpa ada ruang untuk istirahat yang sebenarnya.

Penyesalan yang Tiada Akhir

Penyesalan adalah ujung dari perjalanan para pecinta dunia. Setelah segala usaha dan pengorbanan, mereka seringkali merasa hampa karena kebahagiaan yang dikejar ternyata tidak seperti yang diharapkan. Kekayaan dan kekuasaan yang diperoleh hanya memberikan kebahagiaan sementara.

Ketika mereka menengok kembali, banyak momen berharga yang terlewatkan dan banyak kesempatan untuk berbuat baik yang terabaikan. Penyesalan ini akan terus menghantui hingga akhir hayat mereka.

Para ulama salaf memberikan nasihat bijak mengenai kecintaan pada dunia. Mereka mengatakan:

مَنْ أَحَبَّ الدُّنْيَا فَلْيُوَطِّنْ نَفْسَهُ عَلَى تَحَمُّلِ الْمَصَائِبِ

“Barangsiapa yang mencintai dunia, maka hendaklah ia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai musibah.” Ini adalah peringatan bahwa dunia tidak hanya menawarkan kesenangan, tetapi juga penuh dengan ujian dan cobaan. Kecintaan yang berlebihan pada dunia akan membawa lebih banyak penderitaan daripada kebahagiaan.

Mencintai dunia dengan berlebihan adalah jalan menuju kekhawatiran, kelelahan, dan penyesalan yang tiada akhir.

Dalam kitab “Ighaatsah al-Lahfaan”, nasihat bijak mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam cinta dunia yang berlebihan.

Sebaliknya, kita harus mencari keseimbangan dalam hidup, menikmati karunia dunia tanpa melupakan tujuan akhir kita, yaitu kehidupan akhirat yang abadi. Dengan begitu, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, damai, dan penuh makna. (MBS)

Sumber