Surabaya, (Sultra1news) – Sejumlah wartawan di Surabaya dan berbagai daerah di Jawa Timur mengecam ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) banyak disusupi atlet non-wartawan, hampir di semua cabang olahraga (Cabor) di setiap kontingen.

Padahal, sejatinya Porwanas menjadi ajang silaturahmi dan kompetisi olahraga antar wartawan se-Indonesia. Salah satu wartawan pemegang kartu Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers, Mohammed Ali Mahrus mengatakan, keikutsertaan peserta yang bukan merupakan wartawan profesional di ajang olahraga antar wartawan se-Indonesia itu selalu muncul, terutama menjelang ajang Porwanas yang digelar setiap dua tahun tersebut.

”Fakta bahwa sudah menjadi rahasia umum jika beberapa kontingen merekrut atlet non-wartawan untuk berkompetisi di Porwanas, semata-mata demi meraih gelar juara,” ujar Ali, Selasa (9/7/2024) malam.

”Katanya Porwanas ini salah satu tujuan utamanya adalah ajang silaturahmi wartawan tanah air. Kok yang bukan wartawan (di)ikut(kan)? Ini sama saja penghinaan profesi kita sebagai wartawan,” sambungnya.

Wartawan koran harian terkemuka di Surabaya itu mengakui, praktik ini diduga telah berlangsung lama dan diketahui. Namun, lanjut Ali, bukannya menghentikan, justru cenderung membiarkan, bahkan mendukung demi gengsi daerah masing-masing.

”Hal ini tentu saja menimbulkan kekecewaan di kalangan wartawan profesional yang merasa tersisih dari ajang yang seharusnya menjadi milik mereka. Banyak wartawan yang memenuhi syarat dan memiliki kemampuan untuk berkompetisi, justru tidak mendapat kesempatan karena posisi mereka diambil alih oleh peserta non-wartawan,” tegas pria yang juga Ketua Wartawan Asli Football Club (Waras FC) itu.

Menurut Ali, fenomena ini tidak hanya terjadi di cabor sepak bola maupun futsal. Namun, juga di berbagai cabor lainnya yang dipertandingkan di Porwanas. Bahkan, event-event lain seperti Liga Media pun tak luput dari masuknya ’pemain siluman’ ini.

”Pertanyaannya kemudian, di manakah letak kebanggaan dan kehormatan profesi wartawan, jika ajang yang seharusnya menjadi milik mereka justru diisi oleh mereka yang bukan wartawan? Bukankah ini mencederai esensi dari Porwanas itu sendiri?,” ungkapnya.

Ali menegaskan, kembalinya Porwanas ke marwahnya bukan hanya tentang sebuah kompetisi olahraga, namun juga tentang menghargai dan menjunjung tinggi profesi wartawan di Indonesia.

”Tidak penting menang kalah dalam pertandingan. Jadi, yang main wajib wartawan-wartawan murni yang tiap hari berjibaku liputan di desknya masing-masing. Porwanas itu, dari wartawan, oleh wartawan, dan untuk wartawan,” pungkasnya. (red)

Sumber