Media Iran, pada Selasa, (9/7) melaporkan bahwa polisi di Iran menutup kantor Turkish Airlines di ibu kota, Teheran, setelah karyawan perempuan di maskapai tersebut tampaknya menolak mengenakan jilbab, yang merupakan tindakan yang melanggar hukum negara tersebut.

Kantor berita semiresmi Tasnim mengatakan polisi pergi ke kantor Turkish Airlines di Teheran pada hari Senin (8/7) untuk mengeluarkan apa yang disebut sebagai peringatan pertama atas “ketidakpatuhan berhijab” oleh karyawan perusahaan tersebut.

Namun, para karyawannya – yang merupakan warga negara Iran – dilaporkan “membuat masalah dengan polisi,” yang memicu penutupan kantor tersebut. Laporan Tasnim mengatakan polisi kemudian menyegel kantor tersebut karena perilaku para karyawannya.

Menurut Tasnim, kantor Turkish Airlines akan diizinkan dibuka kembali pada hari Rabu (10/7) dan melanjutkan bisnis seperti biasa, hal yang belum dikonfirmasi oleh polisi.

Laporan tersebut lebih lanjut mengatakan bahwa polisi tidak akan menutup bisnis apa pun karena ketidakpatuhan mengenai jilbab, namun akan mengeluarkan peringatan pertama.

Belum ada komentar langsung dari Turkish Airlines atas insiden yang terjadi di Teheran itu.

Penolakan terbuka terhadap undang-undang jilbab meletus menjadi protes massal di seluruh Iran setelah kematian Mahsa Amini, yang berusia 22 tahun, pada September 2022 setelah dia ditangkap oleh polisi moral negara tersebut. Meskipun demonstrasi-demonstrasi tersebut tampaknya telah mereda, pilihan sebagian perempuan Iran untuk tetap tampil tanpa jilbab menjadi tantangan baru bagi teokrasi negara tersebut.

Pihak berwenang Iran selama beberapa tahun terakhir telah menutup ratusan bisnis di seluruh negeri – mulai dari toko, restoran hingga apotek dan kantor – karena secara diam-diam mengizinkan karyawan perempuan mereka untuk tidak mengenakan jilbab.

Penegakan UU tersebut ditingkatkan pada bulan-bulan menjelang pemilihan presiden Iran pada bulan Juni untuk menggantikan mendiang Presiden Ebrahim Raisi yang meninggal dalam kecelakaan helikopter pada bulan Mei lalu.

Perselisihan di kantor Turkish Airlines di Teheran terjadi pada hari yang sama ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menelepon Presiden terpilih Iran Masoud Pezeshkian untuk mengucapkan selamat atas kemenangannya dalam pemilihan presiden Iran yang berlangsung pada pekan lalu.

Pezeshkian mengalahkan Saeed Jalili dari kelompok garis keras dalam pemilu tersebut dengan berjanji untuk menjangkau negara-negara Barat dan melonggarkan penegakan hukum wajib jilbab di negara tersebut setelah bertahun-tahun sanksi dan protes yang menekan membelit Republik Islam tersebut.

Kantor berita IRNA yang dikelola pemerintah mengutip Jaksa Teheran Ali Salehi yang mengatakan bahwa tidak ada proses atau keputusan hukum yang dikeluarkan mengenai penyegelan kantor Turkish Airlines di Teheran.

Iran dan Turki telah menjaga hubungan baik dan pada tahun 2023, volume perdagangan bilateral antara keduanya mencapai US$5,4 miliar. Turki juga merupakan tujuan wisata populer bagi warga Iran, dengan sekitar 2,5 juta orang berkunjung ke Turki pada tahun lalu.

Turkish Airlines adalah maskapai favorit di kalangan masyarakat Iran karena waktu perjalanan yang lebih singkat ke Amerika Serikat dan Kanada, dibandingkan dengan penerbangan jarak jauh lainnya dari negara-negara Arab di Teluk Persia. [my/uh]

Sumber