Perang di Suriah, Ambisi Presiden Rusia Vladimir Putin Menjadi Adi Kuasa

Sultrasatu.news/International – Konflik Rusia dengan Barat muncul akibat penyebaran perisai rudal Amerika di Eropa, dan langkah Amerika yang memperbarui senjata taktis nuklir NATO di perbatasan negara-negara berbatasan dengan Rusia.
Putin berusaha membangun hubungan dan ingin menciptakan integrasi yang lebih erat dengan Eropa dan Barat selama tiga tahun pertamanya berkuasa. Namun, Putin tiba-tiba berubah arah dan berambisi membangun negaranya yang lebih kuat, dan berambisi ingin mencaplok negara-negara di sekelilingnya, terutama negara-negara bekas Eropoa Timur.

Akibat ambisi teritorialnya dan mimpinya tentang era Uni Soviet, sebagai imperium yagn adi daya, maka Putin terus membangun kekuatan negaranya. Rusia bermimpi ingin mengambil negara-negara bekas Unie Soviet terutama negara-negara Eropa Timur, yang sekarang masuk dalam blok Uni Eropa.
Rusia merasa terhina dengan negara-negara bekas Soviet di Eropa Timur dianeksasi oleh negara-negara tetangga Uni Eropa, dan Moskow ingin mengembalikan kongtrol atas negara-negara bekas Uni Soviet dengan dalih melindungi etnis Rusia. Seluruh tujuan di balik ambisi Rusia itu, sejatinya ingin membatasi peran global Amerika, sekaligus memungkinkan Rusia memainkan peran penting setiap pengambilan keputusan internasional.

Upaya Rusia ini termasuk ingin mendapatkan kembali posisinya dalam sistem internasional berdasarkan bipolaritas bersama Amerika. Untuk mencapai tujuan ini, Putin melancarkan program ekonomi dan militer, dan Rusia ingin mendapatkan kembali keseimbangan dan meningkatkan kemampuannya mengambil tindakan regional dan internasional untuk memaksakan kehadirannya dan meningkatkan prestise Rusia secara global. Semua tujuan telah dicapai.
Putin berdasarkan hasil riset media, sebagai tokoh yang paling berpengaruh di dunia, bukan Barack Obama. Putin sebagai penentu semua konflik regional dan global, termasuk konflik yang terjadi di Suriah.

Karena itu, Putin terus meningkatkan kehadiran militer Rusia di bekas Uni Soviet dengan cara membangun pangkalan militer dan memperkuat Organisasi Perjanjian Keamanan bersifat Kolektif. Dengan membangun kekuatan rudal balistik, dan bahkan rudal balistik antar benua.
Putin juga menyerukan pembentukan serikat pabean, dan memasukkan negara-negara bekas Uni Soviet, mengadopsi berdasarkan doktrin militer yang memperkuat sistem pertahanan rudal dan pengembangan rudal yang membawa sistem hulu ledak nuklir, seperti rudal balistik, kapal selam dan bom strategis.
Senjata konvensional juga dimodernisasi dengan perintah operasional dan armada angkatan laut berbasis di Laut Mediterania, di Latakia, Suriah. Selain itu, jaringan pangkalan militer telah dibangun bagi pusat angkatan udara pertahanan, brigade reaksi cepat dan pasukan khusus angkatan laut dikerahkan di atas kawasan Arktik.

Putin terus meningkatkan kekuatan militernya tanpa batas, dan peningkatan militer Rusia bisa kemungkinan pecahnya perang dunia. Belanja Rusia membangun kekuatan militer dan persenjataannya sekarang melebihi 9 persen dari PDB, termasuk anggaran bagi penyebaran pesawat dan kapal di seluruh dunia.
Pecahnya revolusi Musim Semi Arab “Arab Spring” memicu konflik antara Rusia dan Barat, terutama setelah Barat intervensi yang terakhir di Libya. Di mana Barat merampas wilayah yang selama ini menjadi sekutu Soviet, yaitu Libya.
Barat juga mengancam kepentingna Rusia di Suriah. Di Suriah terdapat pangkalan terbesar Rusia di luar negeri. Pelabuhan Latakita yagn menjadi kota kelahiran keluar al-Assad, merupakan pusat pangkalan militer Rusia. Inilah latar belakang mengapa mengerahkan pesawat tempurnya ke Suriah, yang sudah melakukan ratusan “sortir” serangan udara ke wilayah-wilayah yang dikuasai oleh oposisi.

Rusia terlibat melakukan konfrontasi langsung melawan Barat dengan mendukung rezim Suriah, dan melindungi secara politik rezim Bashar dengan menggunakan hak vetonya di DK PBB, selama empat kali. Moskow memasok Damaskus dengan senjata, uang dan para ahli militer, dan berkoordinasi dengan Iran, mencegah rezim Assad runtuh di bawah tekanan politik dan militer Barat.
Rusia sangat kecewa terhadap Uni Eropa dan NATO yang mendorong Ukraina bergabung dengan mereka. Maka Rusia membayangkan sangat kawatir, yaitu akan lahirnya Uni Eurasia.

Ambisi Rusia dibarengi dengan inflasi dan deflasi, karena sanksi ekonomi Barat dan penurunan harga minyak dan gas. Beberapa pengamat Rusia memprediksi jatuhnya harga minyak menjadi $40 dollar/perbarel, dan bahkan bisa $20 dollar/per barel. Ini berarti setiap 1 tetes minyak per-barel, Rusia kehilangan $2,5 miliar dolar.
Kita tidak boleh lupa bahwa seperlima dari utang luar negeri Rusia $ 700 miliar dollar, dan utang yang sudah akumulasi oleh perusahaan-perusahaan Rusia, yang berjumlah $ 500 miliar jatuh tempo tahun ini, atau Rusia kehilangan modal senilai $ 100 sampai $ 200 miliar diambil dari Rusia pada 2014. Bahkan, Rusia diperkirakan memiliki cadangan devisa hanya cukup sampai Desember 2015 inin.

Terlepas dari kenyataan bahwa pendapatan Rusia dari produk minyak dan dan gas alam, mencapai sekitar $ 320 triliun dolar, antara tahun 2000 dan 2013, tapi tidak menghasilkan modernisasi ekonomi Rusia. Hal ini menyebabkan kontradiksi dalam struktur Rusia antara militer dan kekuatan ekonomi. Rusia seperti Uni Soviet, raksasa dengan dua kaki, secara militer Rusia sangat, namun ekoonominya sangat lemah, dan terancam “colaps”.
Sejarawan Amerika, Paul Kennedy, mengenai naik turunnya kekuatan besar (adi daya), sangat ditentukan oleh faktor ekonomi yang kuat, yang digunakan membiayai tentara dikerahkan di luar negeri. Kurangnya kemampuan ekonomi (keuangan) yang membiayai belanja pada operasi militer di luar negeri baik menempatkan kekuatan miliernya akan menuju kegagalan.

Kelanjutan dari konflik Rusia-Barat dan keterlibatan militer Moskow di Ukraina dan Suriah, serta kemung
​kinan keterlibatannya di Irak, akan menyebabkan Rusia mengalami kegagalan, dan mendorongnya ke jurang kebangkrutan. (Cakra/Sultrasatu.News)