Walikota Baubau, Dr H AS Tamrin M.H, Sebagai Ideologi Bangsa Polima Dan Pancasila Punya Keterkaitan

      Comments Off on Walikota Baubau, Dr H AS Tamrin M.H, Sebagai Ideologi Bangsa Polima Dan Pancasila Punya Keterkaitan

Sultra1News / Baubau – Bedah buku “Polima Gema Pancasila dari Baubau” hasil goresan pena Wali Kota Baubau, Dr AS Tamrin sukses diulas. Pokok-pokok nilai Polima ini dijelaskan AS Tamrin secara gamblang di hadapan pembahas di Hotel Golden Tulip Banjarmasin, Sabtu 8 Februari 2020.

Bedah buku yang memuat nilai Polima ini merupakan salah satu agenda yang masuk dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Banjarmasin sebagai tuan rumah.

Adapun pembahas dalam bedah buku Polima ini diantaranya, Prof Dr Ermaya Wiradinata selaku Rektor IPDN yang juga Mantan Gubernur Lemhanas, Prof Dr Hasan Effendi sebagai akademisi IPDN, dan Dr Sampara Lukman selaku Direktur Pasca Sarjana IPDN.

Selain tiga pembahas, hadir pula dalam bedah buku Prof Dr Rajab Ritonga yang mewakili PWI Pusat, Sekda Baubau Dr Roni Muhtar, Ketua DPRD Baubau bersama anggota, Dr Tasrifin Tahara selaku Antropolog Unhas, Dewan Juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, wartawan senior dari PWI Pusat, Sultan Buton, unsur Forkopimda se-Kota Baubau, kepala OPD lingkup Pemkot Baubau, Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST), srikandi Polima dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Bertindak sebagai moderator bedah buku yakni Sekda Baubau, Dr Roni Muhtar.

Dalam kesempatan ini, AS Tamrin menjelaskan adanya keterkaitan antara Polima dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Keterkaitan yang paling mendasar adalah keduanya sama-sama sebagai alat pemersatu.

Selain itu, sebagai filter atas pengaruh budaya luar, sebagai panduan kehidupan dalam interaksi bermasyarakat dan sebagai jati diri dan identitas.

“Kalau Polima identitas masyarakat Buton, kalau Pancasila seluruh masyarakat Indonesia.Termasuk keduanya bernuansa pada kekeluargaan dan gotong royong,” katanya.

Kata dia, Polima merupakan implementasi dari “Sara Pataanguna” yang tertuang dalam mukadimah martabat tujuh kesultanan Buton. Nilai ini sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Buton.

Nilai ini lalu diikat oleh falsafah Binci-binciki kuli (Tenggang rasa, sifat jujur pada diri sendiri dan representasi sifat religius) sebagai causa prima yang merupakan rasa tanpa mengurangi nilai yang lainnya.

“Polima memiliki lima nilai, begitu juga dalam Pancasila. Setiap nilai dalam Polima mewakili setiap sila Pancasila. Contoh, Po-binci binciki Kuli yang merupakan representasi sifat religius yang berkaitan erat dengan sila pertama,” katanya.

Lalu Po-mamasiaka yang berarti saling sayang menyayangi sesama manusia berkaitan erat dengan sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradat.

Selanjutnya Po-maemaeaka yang berarti saling menaggung rasa malu, seperasaan, sepenanggungan, solidaritas dan jiwa bersatu berkaitan erat dengan sila ketiga persatuan Indonesia.

Nilai keempat Po-angka angkataka atau saling menghormati, menghargai dan respresentasi sifat yang bijaksana berkaitan erat dengan sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan/perwakilan.

Terakhir Po-piapiara artinya saling mengayomi dengan memberi pelayanan yang adil terhadap sesama berkaitan erat dengan sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Salah satu pembahas, Prof Dr Ermaya Wiradinata sangat mengapresiasi nilai-nilai budaya Polima yang diimplementasikan Wali Kota Baubau, Dr AS Tamrin. Menurutnya, nilai yang termuat dalam budaya Polima adalah dasar hidup yang patut diaplikasikan.

“Pak Tamrin ini bukan seorang pencipta, karena pencipta hanya Allah SWT. Tapi dia (AS Tamrin) adalah seorang penggali nilai yang diimplementasikan dalam satu budaya yang disebut Polima,” katanya.

Menurutnya Polima sangat menarik. Sebab Polima dalam garis besarnya mengarah pada toleransi, saling menghormati, dan menghargai yang juga merupakan nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai ideologi bangsa.