Ketua Gema Nusa Sultra Usulkan Nama untuk Jembatan Penghubung Pulau Muna-Buton Kepada Gubernur Sultra

      Comments Off on Ketua Gema Nusa Sultra Usulkan Nama untuk Jembatan Penghubung Pulau Muna-Buton Kepada Gubernur Sultra

Sultra1News / Kendari – Ketua Gerakan Muda Nusantara Sulawesi Tenggara (Gema-Nusa Sultra) Jhabar M. Top akan mengirim surat tertulis kepada Gubernur Ali Masi untuk perubahan nama Jembatan Penghubung Pulau Muna dan Buton yang sebelumnya bernama Jembatan Tona seperti di ungkap oleh Gubernur diberbagai berita media online, cetak dan elektronik.

Jhabar mengusulkan nama Jembatan Al-Buthuni Wal Munajat sebagai nama jembatan baru yang menghubungkan Pulau Muna dan Pulau Buton.

“Saya usulkan nama itu sesuai dengan sejarah terbentuknya Negeri Buton dan Negeri Muna yang di kutip di dalam buku  Assajaru Huliqa Daarul Bathniy Wal Daarul Munajat atau dikenal dengan buku Tambaga,” kata Jhabar usai berdiskusi dengan saudara-saudara mahasiswa Muna-Buton di salah satu warkop area Kampus Baru UHO,. Rabu (03/01/2021).

Menurut Jhabar, nama itu sebagai tanda pengetahuan regenerasi anak-anak negeri Muna dan Negeri Buton untuk tidak mudah melupakan sejarah.

“Ini usulan, yang menetapkan Gubernur. Kalau tidak setuju, tidak apa-apa,” kata Jhabar yang juga Kabid PTKP HMI Cabang Kendari 2017.

Jhabar mengatakan bahwa ia telah berkeliling wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara dan mendapatkan gedung, kampus, bandara dan bangunan stategis lainnya yang diberi nama tokoh di dalam sejarah

Misalnya seperti Sultan Murhum, Haluoleo, nama program unggulan gubernur Nur Alam (Bahteramas),

Namun, belum ada bangunan dengan dengan nama sejarah terbentuknya suatu negeri.

Padahal, menurut Jhabar, Al Buthuni Wal Munajat merupakan catatan sejarah penting yang saat ini menjadi pengetahuan umum bagi regenerasi berikutnya

Di sisi lain, penamaan ini merupakan tanda kiranya bagi masyarakat kedua negeri Muna dan Negeri Buton untuk memahami lebih jauh yang pernah di riwayatkan oleh Nabi Mulia Muhammad Ibnu Abdillah yang memerintahkan kedua sahabatnya yakni Abdul Gafur dan Abdul Syukur untuk mencari kedua negeri sesaat usai menunaikan sholat subuh mendengarkan ledakan besar tanda timbulnya sebuah daratan baru dari Tuhan Maha Pencipta dan menancapkan kedua bendera bertuliskan Laillaha Illaullah Muhammad Rasulullah,. Tutup Jhabar.

memperkaya Hasanah kearifan lokal dan mempertahankan nama eksistensi adat budaya bagi generasi kedapan. ” Bahwa NKRI Cerdas dgn tdk melupakan akan sejarah adat dan budayanya , demikian dikatakan Jabar M TOP, dan sebagaimana cita dan nawacita Jokowi.

Jembatan adalah melambangkan jalan lurus shiratal Mustaqim yang bisa menyambungkan secara spritualis dan kemajuan pembagunan Indonesia Maju yang berkesinambungan tanpa adalagi perbedaan ,rasisme ,agama dan suku juga radikalisme….demi terwujudnya kesatuan dan persatuan sesama sauadara Anak Bangsa…, “ditambahkan ,Jabar M. TOP.

Tim SSN.